Sabtu, 05 Desember 2015

DISIPLIN KELIMA



DISIPLIN KELIMA
Oleh: Gud Reacht Hayat Padje, S.Pd

Peter Senge melalui karya terkenalnya, "The Fifth Discipline" (1997) melontarkan gagasannya bahwa sebuah organisasi hanya akan mampu beradaptasi dengan perubahan apabila ia mampu menjadikan dirinya tampil sebagai sebuah organisasi pembelajaran, learning organization, yakni sebuah organisasi yang dibangun oleh orang-orang yang secara terus-menerus mau memperluas kapasitas dirinya dalam rangka mencapai tujuan bersama yang telah ditetapkan.
Senge menekankan bahwa yang harus dikembangkan dalam gaya pembelajaran ini bukanlah semata pengembangan kemampuan-kemampuan baru, melainkan juga kemampuan untuk menggeser pemikiran-pemikiran yang mendasar. Dalam organisasi pembelajaran berlaku kaidah bahwa belajar adalah bagian dari pekerjaan itu sendiri. Learning is part of work, a part of everybody's job description, tegas Michael Marquardt dalam "Building Learning Organization" (1996).
Intinya, sebuah organisasi pembelajaran dikatakan berhasil ketika semua orang dalam organisasi mampu melihat dan mengalami dunia dengan cara berbeda ketika asumsi dan keyakinan baru muncul, dan ketika setiap orang mampu melakukan hal-hal yang sebelumnya tidak bisa dilakukan. Lahirnya banyak gagasan baru adalah indikator penting dari keberhasilan membangun organisasi pembelajaran.
Dalam konteks ini, Peter Senge menawarkan lima disiplin yang harus dijalankan oleh para pelaku birokrasi, utamanya oleh para pemimpinnya sebagai syarat sebuah organisasi mampu melakukan perubahan.
Disiplin pertama, mengembangkan personal mastery atau penguasaan pribadi seluruh aparat birokrasi. Kaidahnya, pembelajaran secara terus-menerus akan terjadi apabila dipicu oleh semangat keingintahuan setiap aparat itu sendiri. Pembelajaran sejati akan terjadi apabila dimotivasi oleh semangat untuk meningkatkan kapasitas atau keahliannya.
Untuk itu, setidaknya ada dua langkah penting yang harus dilakukan. Pertama, setiap aparat didorong untuk memiliki visi. Kedua, mereka disadarkan tentang realitas kekinian yang dimilikinya (current reality).
Tugas para pemimpin birokrasi adalah bagaimana menciptakan situasi yang kondusif yang mampu menciptakan "greget" (creative tension) pada setiap aparat untuk mewujudkan visinya. Indikator keberhasilannya, visi diterima setiap aparat bukan karena rumusannya yang menarik, bukan karena merupakan ide yang bagus, melainkan lebih karena sebuah panggilan.
Disiplin kedua adalah membangun model mental, yakni membangun citra, asumsi atau keyakinan yang telah tertanam kuat dalam pikiran setiap orang, dilatarbelakangi oleh pengalaman, yang dipengaruhi oleh cara pandang setiap orang terhadap semua aspek kehidupan dunia yang dilihatnya selama ini, termasuk cara melihat dirinya. Jika disiplin pertama lebih banyak diarahkan untuk membangun semangat berpikir aparat, disiplin kedua ini ditujukan untuk membangun semangat mencari kebenarannya (inquiry).
Inti dari disiplin ini adalah upaya untuk mempertemukan ragam sudut pandang, keyakinan, atau asumsi menjadi sebuah model mental bersama (shared mental model) yang pada gilirannya diharapkan bisa melahirkan apa yang disebut dengan kecerdasan kolektif (collective intelligence). Melalui kecerdasan kolektif itulah, gambaran dunia baru bisa ditemukan karena setiap orang dituntut untuk melihat kekurangan yang dimilikinya dan dalam waktu yang sama bersedia menerima kelebihan yang dimiliki orang lain, bawahan sekalipun.
Secara jujur harus diakui, banyak dari hambatan penyelenggaraan birokrasi selama ini, berkait dengan persoalan mental model ini. Munculnya kekeliruan dalam menjabarkan sebuah kebijakan yang dibuat pemimpin, misalnya, berkait dengan adanya ragam model mental yang dimiliki aparat. Sang pemimpin yang tidak mau mendengar alternatif gagasan bawahan yang dipimpinnya - mental block - adalah contoh lain dari kegagalan membangun model mental ini.
Disiplin ketiga adalah membangun visi bersama, shared vision, yakni harapan bersama tentang masa depan yang ingin dicapai organisasi. Sebuah visi benar-benar merupakan visi bersama apabila setiap orang memiliki gambaran yang sama dan setiap orang merasa memiliki komitmen untuk mencapainya. Itu sebabnya, visi yang baik selain mengikat seluruh anggotanya, juga mampu menjadi sumber inspirasi dalam menjalankan tugas mereka. Oleh karena itu, visi bersama juga berfungsi membangkitkan dan mengarahkan.
Dalam membangun organisasi pembelajran, visi bersama menjadi sangat penting artinya setidaknya karena dua hal: memberi fokus dan energi pembelajaran. Di sini kemampuan seorang pemimpin untuk membangun nilai-nilai, norma-norma yang mampu memelihara dan memperkuat komitmen semua anggota organisasi dalam pencapaian visi menjadi kunci.
Disiplin keempat adalah membangun pembelajaran tim, team learning. Inti dari penegakan disiplin ini adalah mengumpulkan berbagai pendapat individu dalam sebuah organisasi sehingga menghasilkan apa yang disebut dengan collective intelligence, yakni sebuah sinergi pemikiran di antara anggota organisasi. Kaidah dari penegakan disiplin ini adalah bahwa kecerdasan tim selalu lebih baik dari kecerdasan perorangan.
Itu sebabnya, disiplin ini sangat meniscayakan arti pentingnya membangun kemitraan atau kesetaraan (alignment) untuk mencapai hasil yang diinginkan. Membangun komunikasi yang didasarkan kepada prinsip saling memahami, saling mendengar dan saling melengkapi adalah kunci yang akan menentukan keberhasilan membangun disiplin ini.
Disiplin kelima adalah membangun cara berpikir secara sistem atau berpikir sistemik, system thinking. Peter Senge menempatkan disiplin ini sekaligus sebagai "disiplin yang kelima" yang kemudian menjadi judul dari karya terkenal yang ditulisnya, "The Fith Discipline". Alasannya, disiplin ini selain berfungsi sebagai fondasi sekaligus juga berfungsi mengintegrasikan penegakan empat disiplin yang lainnya.
Inti dari penegakan disiplin ini adalah kemampuan untuk melihat dan memahami setiap kejadian sebagai sebuah sistem, yakni entitas keseluruhan yang dibangun oleh bagian-bagian yang saling berhubungan, saling berkaitan, dan karenanya saling menentukan. Syarat awal untuk memulai berpikir sistemik adalah membangun kesadaran bahwa kejadian apa pun, fisik maupun nonfisik, dipahami sebagai sebuah hasil dari keseluruhan interaksi antarunsur dalam batas-batas sebuah sistem.
Berpikir sistemik juga sering disebut dengan cara berpikir generatif karena mampu melihat setiap kejadian tidak dari fenomena yang muncul kepermukaan, tetapi dari dinamika strukturnya yang paling dalam. Di sini, berpikir sistemik merupakan sebuah disiplin untuk memahami kerumitan dan perubahan.
Karena kemampuannya dalam memahami dinamika sistem, orang-orang dengan kemampuan berpikir ini juga biasanya begitu cerdas membuat sebuah pengungkit (leaverage) sederhana, namun dengan efek ungkit yang demikian berarti. Indikatornya, ketika dihadapkan kepada sebuah masalah, orang-orang dengan kemampuan berpikir ini cenderung akan bertindak membuat solusi berdasarkan kepada akar penyebabnya, bukan kepada gejala yang tampak ke permukaan. Selalu mengutamakan solusi yang bersifat fundamental, bukan symptomatik. Selalu berpikir jauh ke depan, bukan jangka sesaat.
Yang menarik, orang-orang dengan kemampuan cara berpikir ini cenderung tak pernah menyalahkan orang lain, karena ia selalu melihat dirinya sebagai bagian dari setiap kejadian yang muncul. The enemy is not there, itulah yang menjadi landasan pemikirannya.
Itulah lima disiplin yang mesti dibangun dalam menjalankan roda organisasi pembelajaran. Peter Senge melihat kelima disiplin tersebut sebagai serangkaian prinsip dan praktik yang mesti dikuasai dan mengintegrasikannya dalam kehidupan sebuah organisasi. Dua disiplin pertama, personal mastery dan mental model, dibangun dalam rangka mengubah cara berpikir orang-orang dalam organisasi. Sementara itu, tiga disiplin berikutnya, yakni visi bersama, pembelajaran tim, dan berpikir sistemik, dibangun untuk mengubah hubungan interaksi orang-orangnya. Untuk bisa melakukan itu semua, Peter Senge mengingatkan bahwa tidak semua pemimpin akan mampu melakukannya. Oleh karena itu, perlu ada perubahan gaya kepemimpinan dalam semua level kepemimpinan birokrasi.
Dalam organisasi pembelajaran, pemimpin adalah perancang, pengasuh, dan guru. Sebagai perancang, tugas utama pemimpin adalah menciptakan dan mengintegrasikan seluruh komponen organisasi yang dipimpinnya menuju sebuah visi yang telah disepakatinya. Sebagai pengasuh, apa saja yang dilakukan sang pemimpin selalu ditujukan dalam rangka mengasuh dan menjaga semua anggota yang ada dalam organisasi yang dipimpinnya, bahkan demi kepemimpinannya, ia akan rela mengorbankan visi pribadinya semata demi kepentingan visi bersama organisasinya.
Sebagai guru, pemimpin bukan berarti harus mengajarkan kepada orang bagaimana mencapai visinya, melainkan lebih kepada upaya untuk memberi dukungan pada setiap orang untuk belajar. Pemimpin yang memberdayakan, singkatnya, itulah sosok pemimpin yang diharapkan mampu membangun organisasi pembelajaran, pemimpin yang diharapkan mampu membawa birokrasi cerdas dan cakap mengelola perubahan. Tidak mudah memang, tapi itulah tindakan yang mestinya mulai dilakukan. Mengabaikannya akan berarti membiarkan eksistensi birokrasi sebagai pelayan publik di negeri ini kian terpinggirkan karena ditelan perubahan.***
DAFTAR PUSTAKA
Marquardt, J. Michael. 1996. Building The Learning Organization. New York: McGraww Hill,.

Senge, Peter M. 2002. Buku Pegangan Disiplin Kelima (The Fifth Discipline Field book). Alih Bahasa Hari Suminto. Batam: Interaksara,




reff : http://opayat.blogspot.com/2015/07/disiplin-kelima.html

Pasang Relay Lampu Untuk Menghindari Aki Tekor

2 Buah Relay
Aki bawaan NVL 3,4A
Hi Bro..

Melanjutkan dari postingan " Mengganti Lampu..."  maka sebaik nya sobat memasang juga yang namanya Relay. Karena ini sangat di rekomendasikan biar aki awet/tahan lama. 

Sebelum nya, apakah arti dan fungsi Relay itu?
Relay adalah suatu komponen listrik yang di dalam nya terdapat saklar/switch komputer dan modul kontrol. 
Fungsi nya mengontrol arus yang besar untuk mengurangi beban di aki, intinya jika dari aki arus nya kecil bisa dibantu dengan relay untuk menghasilkan arus yang lebih besar. Sebab di dalam relay terdapat sebuah kumparan yang bersifat magnetik untuk mengeluarkan arus besar.
Untuk lebih jelasnya bisa sobat baca neng kene 

Aplikasi pada kendaraan motor khususnya, melalui jalur kontak dan saklar lampu. Untuk pin/soket relay bisa di hubungkan ke kutub postif aki yang bisa di tambahkan dengan fuse/sekring(10A) untuk membatasi arus yang masuk ke beban. Untuk ground ada penambahan kabel yang menuju ke body dari lampu.

Di motor NVL saya memasang 2 buah relay yang di gabung menjadi satu, karena aki bawaan motor terlalu kecil arus nya. yaitu 3,4A jika di paksakan memakai relay 1 buah kurang maksimal. Ini rekomendasi dari temen bengkel.
Sebenarnya memakai 1 buah relay juga tidak masalah cuma untuk jangka panjang mungkin kurang aman, tergantung dari merk relay sendiri. 
Baik nya arus di motor sudah DC sebab arus akan stabil untuk mengangkat beban yang lebih besar.

Demikian sedikt penambahan,
Jika ada kekurangan mohon tambahakan di komentar, 
Terimakasih semoga bermanfaat.





reff : http://variasi4ja.blogspot.com/2014/10/pasang-relay-lampu-untuk-menghindari.html

Senin, 30 November 2015

INDUSTRI 5

5. U STORI DE U GAME

Pre u mega tem, tem plu navi du kine ad u-la navi asilu, u kapitana Jonatan e u kapitana Jakob habe un ofici-do, proxi a navi-lo, kausa mu habe poli navi. Plus-co mu este hedo de es proxi a topo, plu navi es a.

Uno-di, po u navi INDUSTRI pa gene stru e plu korda e veli, id es topo u-la navi-lo, plus plu ergo-pe du moti plu ra in id, tende moti id a tele landa. U kapitano Jonatan e u kapitano Jakob es in ofici-do, tem dice de u-la. U kapitano Jonatan fini dice: "Jacob, tu auto face u viagia. Plus-co kine ko Loisa. U-co fu es u boni game viagia pro vi." Kausa Loisa pa dice u promise de game kon u kapitano Jakob.

U kapitano Jakob habe aktivi de skope u navi, e de prepara u kamera pro Loisa. Anti-co u kapitano Jakob ne pote moti poli ra kon an, kausa u kamera habe tali mikro. Para-co an doxo; si Loisa fu pote este sati de oligo ra tem viagia a la, fe fu pote merka plu ra, fe volu, e fu moti ko fe plu-ci ra. Plus-co, kron u kapitano Jakob akti u puta de u-la, an sti ridi.

Kron Loisa vide u kamera, plu eko-ra in id habe mega kali, anti-co id habe veri oligo ex mu. Kron Loisa kine itera ad eko-do u kapitano Jonatan dice a fe u qestio; fe este qo hedo de eko-ka in navi. Fe dice; Jakob feno habe tali no-merka de auto ra, fe ne ski; qe fe fu akti u game kon an, alo ne fu akti.

U kapitano Jonatan sti ridi per gluko mode. An dice: "Jakob ko mi pa dice pri u-ci. Seqe-co na face u decide; tu habe ko tu ma oligo ra tem viagia, tu habe ma spaci tende re-fero plus ra."

Po-co u game di fini veni. Id es u di ge-decide; u navi fu kine de proto viagia ad u tele landa. Po-co u mega, ponde vagona kine longi u steno via a navi-lo. Plus-co, po u-la vagona, plu plus vagona kine. Ex u proto vagona u kapitano Jakob salta. Plus-co, kron an tropi se e auxi; Loisa kine a tera, plus kron plu mari-pe vide Loisa, mu sti voci, fo-soni iso posi. Kron u kapitano Jonatan kine ex vagona, Loisa kine ad an, e moti plu braki peri an. Po-co u kapitano Jakob ko Loisa kine in navi per klina tabula. Po-co u navi kine per veli akorda u fluvi e ad u mega oceani.

U-ci es panto-ra.





reff : http://glos-avanti.blogspot.com/2015/11/industri-5.html

POSTUR TUBUH



Postur yang baik merupakan bagian penting dalam pemeliharaan diri. Membiasakan diri dengan kondisi postur yang baik akan membantu dalam mencegah berbagai gangguan fisik, seperti kelelahan, memperbaiki bentuk tubuh, memberi kesan penampilan diri lebih luwes dan tidak kaku. Disiplin diri merupakan unsur yang menentukan bagi suatu kepribadian yang tertib, tenang, menyenangkan serta menyehatkan. Berdiri dalam posisi yang benar akan menjaga otot-otot dan tubuh dalam kondisi yang baik. Postur yang baik sangat tergantung pada kebiasaan seseorang, untuk itu hindari : sikap malas, posisi punggung yang membungkuk atau posisi tubuh yang membuat lekukan pada tulang punggung ketika sedang bekerja. Saat berjalan harus dibiasakan berdiri dengan benar, berat tubuh harus terbagi sama rata untuk mendapatkan keseimbangan tubuh.
Berbagai posisi dan sikap tubuh :
  1. Sikap yang baik saat duduk adalah kepala tegak, dagu ditarik ke dalam, dada lurus, punggung (bahu) relax, perut ditahan.
  2. Sikap yang tidak baik dan kaku.
  3. Sikap yang tidak baik dan bungkuk.
  4. Sway Back atau Lordosis : Kelainan pada tulang belakang membentuk lengkungan ke depan sehingga punggung lurus dan perut maju ke depan serta bokong ke belakang.
  5. Bahu yang menunduk : Khyposis: Kelainan pada tulang belakang sehingga terlihat punggung membungkuk.
  6. Sway back dan bahu yang menunduk : Scoliosis : Kelainan tulang belakang melengkung ke kiri dan ke kanan sehingga tubuh terlihat miring ke kiri atau ke kanan.
Selain dari sikap tubuh saat berdiri, sikap duduk yang baik pun penting diperhatikan untuk mencegah kelelahan pada umumnya dan ketegangan pada punggung. Sikap duduk yang baik yaitu punggung tegak dan posisi duduk menekan bagian belakang.
Posisi tubuh yang baik pada waktu memungut sesuatu dilakukan dengan setengah berjongkok dan posisi punggung tidak melengkung.
Penggunaan hak sepatu yang tinggi dalam waktu yang lama dan sering akan menegangkan kaki dan punggung. Hal ini dapat mengakibatkan perubahan sikap tubuh nampak berat ke depan dan bentuk betis menjadi kurang bagus.
Penggunaan sepatu dengan tumit yang rendah dan lebar dapat menopang tubuh, sehingga keseimbangan tubuh lebih terjaga dan kaki lebih nyaman.

POSTUR (BODY ALIGNMENT)


POSTUR (BODY ALIGNMENT)
Postur tubuh merupakan susunan geometris dari bagian-bagian tubuh yang berhubungan dengan bagian tubuh lain. F3agian yang dipelajari dari postur tubuh adalah persendian, tendon, ligamen, dan otot. Apabila keempat bagian tersc:but digunakan dengan benar dan terjadi keseimbangan, maka dapat menjadikan fungsi tubuh maksimal, scperti dalam posisi duduk, berdiri dan berbaring yang benar.

Postur tubuh yang baik dapat meningkatkan fungsi tangan dengan baik, mengurangi jumlah energi yang digunakan, mempertahankan keseimbangan, mengurangi kecelakaan, memperluas ekspansi paru, dan memingkatkan sirkulasi renal dan gastrointestinal. Untuk mendapatkan postiur tubuh yang benar, terdapat beberapa prinsip yang perlu diperhatikan, di antaranya:
  1. Keseimbangan dapat dipertahankan jika garis gravitasi (line of gravity -garis imaginer vertikal) mclewati pusat gravitasi (center of gravity-titik yang berada di pertengahan garis tubuh) dan dasar tumpuan (base of support-posisi menyangga atau menopang tubuh).
  2. Jika dasar tumpuan lebih luas dan pusat gravitasi lebih rendah, kestabilan dan keseimbangan akan lebih besar.
  3. Jika gravitasi bc:rada di luar pusat dasar tumpuan, enc:rgi akan lebih banyak digunakan untuk mempertahankan keseimbangan.
  4. Dasar tumpuan yang luas dan bagian-bagian dari postur tubuh yang baik akan menghemat energi dan mencegah kelelahan otot.
  5. Perubahan dalam posisi tubuh membantu mcncegah ketidaknyamanan otot.
  6. Memperkuat otot yang lemah dapat membantu menc;egah kekakuan otot dan ligamen.
  7. Posisi dan aktivitas yang bervariasi dapat membantu mempertahankan otot dan mencegah kelelahan.
  8. Pergantian antara masa aktivitas dan istirahat dapat mencegah kelelahan.
  9. Membagi keseimbangan antara aktivitas pada lengan dan kaki untuk mencegah beban belakang.
  10. Postur yang buruk dalam waktu yang lama dapat menimbulkan rasa nyeri, kelelahan otot, dan kontraktur.











FAKTOR-FAKTOR YANG MEMENGARUHI POSTUR TUBUH
Pembentukan postur tubuh dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor, di antaranya:
  1. Status Kesehatan. Perubahan status keschatan dapat mc;nimbulkan keadaan yang tiidak optimal terdapat organ atau bagian tubuh yang mengalami kelelahan atau kelemahan sehingga dapat memengaruhi pembentukan postur tubuh.
  2. Nutrisi. Nutrisi merupakan bahan untuk menghasilkan yang digunakan dalam membantu proses pengaturan keseimbangan organ, otot, tendon, ligamen dan persendian. Apabila status nutrisi kurang, kebutuhan energi pada organ tersebut akan kurang sehingga dapat proses keseimbangan.
  3. Emosi. Emosi dapat menyebabkan kurangnya kendali dalam menjaga kescimbangan tubuh. Ilal tersebut dapat mcmcngaruhi proses koordinasi pada otot, ligamen, sendi dan tulang.
  4. Gaya Hidup. Perilaku gaya hidup dapat membuat seseorang jadi lebih baik atau bahkan sebaliknya menjadi buruk. Seseorang yang memiliki gaya hidup yang tidak sehat misalnya selalu menggunakan alat bantu dalam melakukan kcgiatan sehari-hari, dapat mengalami ketergantungan sehingga postur tubuh tidak berkcmbang dengan baik.
  5. Perilaku dan Nilai. Adanya perubahan perilaku dan nilai seseorang dapat memengaruhi pembentukan postur tubuh. Sebagai contoh, perilaku dalam membuang sampah di sembarang tempati dapat memengaruhi proses pembcntukan postur tubuh orang lain yang berupaya untuk selalu bersih dari sampah.




reff : http://dichinmuwmuw.blogspot.com/2015/02/postur-tubuh.html